{"id":92584,"date":"2021-06-07T07:11:07","date_gmt":"2021-06-07T07:11:07","guid":{"rendered":"https:\/\/snd1.org\/mari-kita-berjalan-sambil-bernyanyi-pusat-eco-spirituality-snd-provinsi-regina-pacis-korea-selatan\/"},"modified":"2024-05-27T09:44:48","modified_gmt":"2024-05-27T09:44:48","slug":"mari-kita-berjalan-sambil-bernyanyi-pusat-eco-spirituality-snd-provinsi-regina-pacis-korea-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/snd1.org\/id\/snd-di-seluruh-dunia-2\/berita-berita-terbaru\/mari-kita-berjalan-sambil-bernyanyi-pusat-eco-spirituality-snd-provinsi-regina-pacis-korea-selatan\/","title":{"rendered":"\u201cMARI KITA BERJALAN SAMBIL BERNYANYI!\u201d PUSAT ECO-SPIRITUALITY SND PROVINSI REGINA PACIS, KOREA SELATAN"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/Letussingaswego-Image.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-large wp-image-25851\" src=\"https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/Letussingaswego-Image-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/Letussingaswego-Image-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/Letussingaswego-Image-350x233.jpg 350w, https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/Letussingaswego-Image-150x100.jpg 150w, https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/Letussingaswego-Image-768x512.jpg 768w, https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/Letussingaswego-Image.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/snd1.org\/wp-content\/uploads\/20210525-Let-us-sing-as-we-go-Indo-1.pdf\"><i class=\"fa fa-download\"><\/i>PDF Download<\/a><\/p>\n<p>\u201cMari kita berjalan sambil bernyanyi!\u201d Ungkapan ini muncul mendekati bagian akhir dari ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si No. 244.\u00a0 Berbicara tentang kita semua sedang dalam perjalanan menuju Tuhan, Paus menekankan bahwa dalam situasi krisis dan ketidakpastian saat ini tidak dapat menghalau \u2018harapan mereka yang berjalan sambil bernyanyi\u201d Bagaimana kita bisa bernyanyi saat kita berjalan di tengah krisis?<\/p>\n<p>Pada tanggal 29 April, pengunjung penting datang ke komunitas kami untuk lokakarya \u201cPeziarah Kehidupan dan Perdamaian\u201d yang dirancang untuk koordinator KPKC milik Pemimpin Tinggi Religius Wanita. Masing-masing berasal dari tarekat religius yang berbeda yang melayani di berbagai daerah untuk orang miskin. Kami telah berkumpul setiap bulan untuk mencari arah bersama, secara aktif terlibat dalam kegiatan kelompok kecil. Di dalam lokakarya, kami tinggal di alam, menikmati makanan vegetarian, menanam pohon di hutan, membuat perubahan paradigma warga dunia dari keserakahan dan dominasi atas bumi dan diakhiri dengan Tarian Elm. Tari Elm adalah tarian meditatif yang diciptakan oleh Anastasia Geng dari Berlin yang mengekspresikan cinta akan alam dan kekuatan penyembuhannya.<\/p>\n<p>Para peserta sangat puas dengan semua yang disiapkan komunitas kami. Kami menanam 200 bibit di tempat di mana pohon-pohon tua ditebang, Para suster sangat bahagia dalam kesederhanaan mereka seperti kepolosan seorang anak kecil. Dalam Elm Dance kami mengingat sejumlah masalah di zaman kita dan mereka yang menderita dan sekarat akibat masalah ini. Doa kala itu sangat mendalam ketika kami fokus pada tangisan orang lain dan memohon belas kasihan Tuhan, agar mengirimkan penghiburan kepada mereka.<\/p>\n<p>Karena mereka yang berharap dalam keputusasaan, harapan masih ada di dunia dan harapan mereka yang berjalan sambil bernyanyi adalah tanda harapan yang ditunggu banyak orang.<\/p>\n<p><iframe title=\"\u201cMARI KITA BERJALAN SAMBIL BERNYANYI!\u201d\" width=\"800\" height=\"450\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/whPHrONMcNg?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PDF Download \u201cMari kita berjalan sambil bernyanyi!\u201d Ungkapan ini muncul mendekati bagian akhir dari ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si No.<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":63604,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[291],"tags":[],"class_list":["post-92584","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-berita-terbaru"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92584","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92584"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92584\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":103442,"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92584\/revisions\/103442"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63604"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92584"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92584"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/snd1.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}